THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Sabtu, 29 Oktober 2011

Bahan Makalah Etika Umum


Liputan6.com, Jakarta: Mari kita tengok fenomena menyebalkan yang sudah tak asing lagi bagi warga di sejumlah kawasan di Tanah Air. Macet, bisa menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan. Sungguh membuat frustrasi. Tak hanya di jalan-jalan kota, perjalanan ke luar kota pun disergap kemacetan. Salah satunya jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura. Belum masuk masa mudik, jalur vital ini ternyata tetap saja rawan macet.

Suntuk, letih, emosi, berujung tak berdaya, sulit dielakkan jika ketemu macet panjang. Tapi tunggu dulu, macet tak melulu menyebabkan orang mati akal. Langkah kreatif digenjot sejumlah orang memanfaatkan macet, mendulang rezeki berlipat ganda. Contohnya pedagang asongan yang menjual camilan seperti manisan buah dan kacang goreng untuk mengusir kejenuhan pengendara yang terjebak macet.

Sasaran serbuan pedagang asongan adalah bus yang sarat penumpang. Melihat camilan ringan bolak-balik di depan mata sungguh menggoda. Macet dan udara panas menyengat agaknya bisa terobati dengan mencicipi berbagai manisan buah yang sangat menggugah selera.

Namun muncul pertanyaan, apakah manisan buah ini berasal dari buah segar yang terjamin kebersihan dan kesehatannya. Sekelumit pengakuan pedagang asongan yang biasa beroperasi di jalur Pantura mungkin bisa jadi petunjuk. Rupanya rasa manis yang hadir pada buah manisan yang dijajakan sejumlah pedagang adalah pemanis buatan, karena buah aslinya mangga muda yang masih asam.

Ada lagi informasi yang lebih mengkhawatirkan, bahwa warna kuning buah yang menggiurkan dan menarik minat pembeli itu diduga menggunakan pewarna tekstil dan bukan pewarna makanan. Bantahan demi bantahan mengalir dari sekelompok pedagang asongan. Tapi, rasa penasaran tetap menggerakkan kami untuk coba mencari tahu lebih jauh tentang pembuatan manisan pinggir jalan ini.

Pencarian fakta pun berlanjut. Berbekal informasi dari seorang kerabat, kami datangi salah seorang penjaja manisan pinggir jalan. Tentu saja kami sudah siapkan peralatan tempur berupa perangkat kamera yang tak tertangkap oleh mata. Kami tiba di sebuah rumah sederhana tempat si pedagang biasa mengolah manisan buah buatannya.

Kedatangan kami ternyata cukup tepat, karena sang pedagang camilan ini akan belanja kebutuhan bahan-bahan baku membuat manisan untuk dilego esok harinya. Langkah pertama si pedagang adalah membeli bahan utama dari manisan yakni mangga dan kedondong yang masih muda. Satu per satu kebutuhan membuat manisan dibeli, tapi soal pembelian bahan kimia yang lalu menarik perhatian kami.

Cukup mengejutkan. Tawas yang dikenal sebagai bahan penjernih air ternyata digunakan untuk membuat manisan. Itu pun belum puncak dari keseluruhan kejutan. Ada satu jurus pamungkas yang harus disertakan untuk menarik perhatian pembeli yaitu pewarna. Tak hanya itu karena sang pedagang juga bermain-main dengan bahaya. Pewarna yang dibelinya ternyata pewarna tekstil yang membahayakan kesehatan.

Sesampai di rumah, mangga-mangga muda itu dikupas cepat untuk kemudian direndam. Namun, bukan direndam air biasa tapi air yang dicampur tawas. Si pedagang berkilah tentang penggunaan tawas ini agar buah tak cepat berair dan terlihat busuk. Pemanis buatan dan pewarna tekstil juga dibubuhkan untuk menambah cita rasa dan menarik perhatian. Tak ada takaran yang pasti, pakai insting saja.

Penjaja manisan ini juga terampil dalam menutupi kedoknya. Agar tidak kepergok menggunakan pewarna tekstil, teknik pemberian pewarna tidak sembarangan dan menggunakan trik tersendiri. "Mencampurnya jangan pakai tangan, bisa terlihat nanti tangan jadi kuning kena pewarna. Jadi cukup digoyang-goyang saja [nampan] tempat pencampuran buah," ujar si pedagang.

Tak hanya manisan. Pedagang asongan pinggir jalan juga menjual jenis camilan lain, salah satunya kacang goreng. Kacang goreng yang tampak alami ternyata juga tak luput dari trik-trik dagang yang tak wajar. Tawas, bahan kimia penjernih air, benar-benar jadi andalan. Kacang-kacang itu sebelum digoreng ternyata lebih dulu direndam air tawas. Tujuannya untuk membuat kacang lebih garing dan renyah saat dikunyah.

Masih ada fungsi tawas lainnya dalam camilan itu. Tawas ternyata multi fungsi, yaitu bisa mempermudah dalam proses menguliti kacang. Apa pun alasannya, penggunaan tawas pada makanan dalam jumlah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Ini yang mungkin kurang dipahami sebagian pedagang.

Tak ingin terlalu banyak berpsekulasi, kami pun menguji manisan dari si pedagang itu ke laboratorium makanan. Terbukti, manisan ini berpewarna yang jelas-jelas bukan standar makanan. Banyak jenis pewarna makanan yang aman digunakan, namun harganya yang mahal membuat sejumlah pedagang mengakalinya dengan pewarna berbahaya.

Masalahnya, sebagian masyarakat tidak menyadari bahaya makanan berpewarna seperti manisan pinggir jalan itu. Ditambah lagi belum ada tindakan dari instansi berwenang untuk mencegah masyarakat terkena dampak buruk dari makanan-makanan ini.(ADO)








Liputan6.com, Jakarta: Berburu jajanan. Itulah aktivitas yang paling banyak menyedot minat anak-anak sekolah saat istirahat atau pulang sekolah. Ya, jajanan telah menjadi keseharian mereka. Kadang makanan utama pun lolos dari ingatan sebab terbius dengan menariknya beragam cita rasa jajanan.

Warna mencolok, harga murah, dan kerapkali rasanya enak dari pengalaman beberapa kali mencicipi jadi daya tarik yang membuat kita tak tahan untuk merogoh kocek membeli jajanan. Nah, kebutuhan jajan atau ngemil ini selain di sekolah-sekolah juga bisa Anda dapatkan di pasar, terminal, dan di sudut-sudut keramaian.

Bicara soal sasaran pedagang jajanan, tentu saja mayoritas anak-anak yang jadi target. Justru ini yang paling riskan. Sebab, anak-anak tak sadar dan belum mengerti apakah cemilan yang mereka makan sehat serta aman untuk dimakan.

Berangkat dari kecurigaan jajanan yang beredar tak layak konsumsi, razia dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM serta kantor Wali Kota Depok. Tak pelak, pedagang jajanan di lingkungan sekolah ketar-ketir. Namun, mereka hanya bisa pasrah. Beberapa jajanan itu diduga mengandung bahan tambahan kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Cemilan yang dicurigai mengandung zat berbahaya bagi tubuh disampling dan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa BPOM. Benar saja, setelah lewat pemrosesan lab hasilnya salah satu bahan kimia berbahaya ditambahkan pada makanan, yaitu pewarna tekstil. Nama kimianya Rhodamin B dan Metahnil Tellow. Salah satu ciri makanan yang mengandung bahan kimia ini yaoti warnanya terlihat mencolok.

Sejumlah pedagang jajanan mungkin hanya berpikir bagaimana agar jajanan yang dijualnya menarik perhatian pembeli. Penambahan pewarna menjadi salah satu upaya yang dilakukan. Padahal jika dikonsumsi dalam waktu lama akan sangat membahayakan kesehatan. Tak hanya sebabkan gangguan perut jika konsumsi berlebihan, tapi ada bahaya lain mengintai.

Sebaran jajanan yang mengandung zat kimia berbahaya ternyata tidak hanya dikota besar. Jari teluntuk narasumber Sigi mengarah ke sebuah kabupaten di kawasan Jawa Barat. Untuk membuktikan, tim investigasi Sigi pun mendatangi sebuah kampung yang dikenal sebagai tempat pembuatan roti selai.

Seorang dedengkot pembuat selai roti rumahan, sebut saja Anah, bersedia kami jumpai. Roti selai dibuat masih menggunakan cara tradisional. Bahan baku yang diperlukan, seperti tepung terigu, telur, mentega, serta gula pasir bisa didapat dengan mudah di pasar. Bahan bahan tadi hanya untuk membuat roti. Masih ada bahan lainnya yang dibeli untuk pembuatan selai roti, yaitu nanas busuk sebagai bahan dasar pembuatan selai.

Buah nanas busuk itu dibersihkan dan dipotong menjadi empat bagian. Setelah itu, nanas diparut hingga halus. Proses ini guna mengurangi kadar air sekaligus mendapatkan nanas yang benar-benar kering. Selanjutnya, dicampur pemanis buatan juga benzoat. Tujuannya agar selai tahan lama.

Kedua, barulah selai tadi dimasukan ke dalam panci untuk dipanaskan kurang lebih setengah jam. Proses selanjutnya si pembuat roti selai mulai menyerempet bahaya. Ia menggunakan zat pewarna pakaian untuk mendapatkan hasil dengan tampilan warna yang. menggiurkan.

Dari proses pembuatan, nampak jelas pembuat roti selai sadar penganan yang mereka buat menggunakan bahan kimia. Namun, sulit memastikan pengetahuan mereka soal dampak buruk jangka panjang yang diakibatkan dari mengonsumsi produksi mereka itu.

Setelah melalui beberapa tahap, roti selai dimasukan ke oven dengan suhu tertentu hingga matang. Agar hasil roti selai lebih sempurna, adonan ditambah pemanis tambahan.

Roti selai siap dikemas. Satu per satu roti selai yang sudah jadi dibungkus plastik tanpa merek siap dipasarkan. Sasarannya, warung-warung dan tukang kue keliling. Harga murah menjadi daya tarik utama pelanggannya. Mendapat roti selai seharga Rp 800 per buahnya dari penjual, ia membandrol Rp 1.000. Baik pedagang warung maupun konsumen buta sama sekali soal roti yang mereka dibelinya mengandung bahan kimia berbahaya.

Untuk memastikan roti selai itu layak dikonsumsi atau tidak, tim investigasi Sigi membawa sampling roti ke laboraturium Dinas Kesehatan Karawang. Dimulai dari menghancurkan sampel roti selai, kemudian dipisahkan antara bahan utama dan bahan pewarna.

Selai maupun roti menjalani proses kimiawi. Uji kualitatif dengan metode kit. Setelah bahan pewarna terpisah dari bahan utama, maka dilakukan tes direndam dalam larutan kimia. Kemudian diaduk hingga rata. Hasilnya, sangat mengejutkan. Hampir semua jajanan ini mengandung bahan kimia pewarna tekstil dan boraks yang membahayakan kesehatan, kecuali selai berwarna merah.

Penggunaan bahan pewarna tekstil rhodamin b, methanil Yellow, dan boraks dalam makanan merupakan tindakan ilegal yang melawan hukum. Selain itu, ada kekhawatiran produsen jajanan ini tidak mengerti komposisi bahan pewarna yang dicampurkan. Sayangnya, pengawasan soal beredarnya makanan berbahaya belum maksimal.

Memang jajanan yang mengandung pewarna tekstil tidak berdampak seketika. Tapi, bukan berarti kesehatan kita harus dikorbankan hanya karena jajanan berbahaya.(BOG)

0 komentar: